cerdas dengan bermain
 
 
 
 
 
 
                 
   
TENTANG KAMI

Malva Kayla, Satu Sentuhan Sejuta Makna

Be a good mom and bussiness woman, mungkin itulah cita-cita saya sekarang. Setelah malang melintang di dunia kewartawanan dan didera kelelahan sehingga anak tak terurus dengan baik, saya memilih untuk berhenti bekerja dan memilih untuk tinggal di rumah bersama anak tercinta. Mengurus anak dan suami buat saya sungguh suatu kegiatan yang menyenangkan. Tapi karena terbiasa dengan aktivitas yang “over time and over act, lama-lama saya jadi didera kebosanan juga menjadi mom at home. Dan terpikirlah buat saya untuk mencari kegiatan yang bisa menekan rasa kejenuhan saya itu.

Akhirnya pertengahan tahun 2006, saya mendirikan Malva Kayla yaitu jenis usaha handmade (kerajinan tangan) mainan edukatif yang  berbasis kain flanel. Kenapa kain flanel? Karena kain ini memiliki jenis warna yang beragam dan teksturnya yang lembut sehingga dapat saya manfaatkan untuk membuat produk mainan anak-anak.

Saya meminta bantuan ibu-ibu rumah tangga sekitar tempat tinggal saya untuk membantu dalam usaha itu. Dan terus terang saja, saya bahagia sekali dapat melibatkan mereka dalam usaha saya ini. Mungkin bukan dari segi materi karena memang tak seberapa hasilnya. Tapi paling tidak, dapat membantu mereka meghilangkan kejenuhan yang saya rasakan juga. Do something different dari kegiatan rutin rumah tangga yang bertahun-tahun mereka lakukan.

Dan yang paling penting juga dengan mendirikan Malva Kayla adalah saya jadi benar-benar dapat menerapkan ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah jurusan teknologi pendidikan di IKIP Jakarta. Yaitu bagaimana membuat media pembelajaran yang baik dan benar. Jadi, saya tak asal jadi membuat produk mainan edukatif itu. Butuh proses dan waktu yang lama agar mainan edukatif itu dapat layak untuk saya jual ke konsumen. Apalagi jika itu diperuntukkan buat anak usia dibawah dua tahun. Faktor keamanan menjadi prioritas saya. Jangan sampai mainan saya berbahaya dan berdampak tidak baik buat anak.

Kenapa bernama Malva Kayla? Buat saya, nama itu kini menjadi a million dream and life expectancy. Karena setelah mengalami kesedihan yang mendalam akibat kematian anak pertama Malva Kayla Tsabita, saya butuh ruang lain di mana saya ingin namanya tetap abadi di hati saya dan orang lain. Dan itu benar-benar memacu saya untuk berbuat best of the best think and act.

Dan rupanya, arti Malva Kayla itu sendiri pun ternyata sesuai dengan produk Malva Kayla yang berbasis kain flannel, soft but strength. Lembut tapi dia sangatlah kuat. Dan saya berharap, semoga produk Malva Kayla dapat menjadi satu sentuhan yang hangat dari mom and pa yang membeli produk Malva Kayla. Meski nilainya tak seberapa tapi memiliki sejuta makna buat anak.

Perkembangan Malva Kayla

No action, nothing happen. Take Action, miracle happen. Demikian kira-kira wise word yang selalu saya tetapkan dalam hati. Usaha yang pada awalnya hanya untuk mengisi kegiatan dari kejenuhan ternyata, Alhamdulillah, berkembang dengan sangat pesat.

Bermula dari liputan beberapa media cetak dan televisi, promosi melalui internet, promosi dari mulut ke mulut, dsb, pemasaran produk kami sudah merambah ke hampir seluruh kota besar di Indonesia. Tentu saja hal ini sangat signifikan dengan peningkatan omset.

Di bagian produksi pun kami menambah produk-produk baru. Hasilnya, lebih banyak lagi ibu-ibu di sekitar tempat tinggal kami yang saya libatkan. Lumayanlah untuk menambah uang belanja mereka di tengah krisis ekonomi saat ini. Bukan itu saja, beberapa pemuda-pemudi yang kurang beruntung belum mendapat pekerjaan, ikut terlibat "bekerja" pada kami. Untuk produksi mainan edukatif dari kain flanel ini saja saya melibatkan tujuh orang. Ini belum termasuk dengan beberapa tenaga lepas yang saya rekrut saat mendapat order proyek dalam jumlah besar.


Aktivitas pembuatan mainan edukatif dari flanel


Beberapa orang sedang mengerjakan 'playboard in the city'. Karena 100% handmade, maka pembuatannya memerlukan ketelitian dan kesabaran.

Seiring dengan perkembangannya banyak konsumen kami yang juga mencari dan membutuhkan jenis mainan edukatif dari kayu. Akhirnya sejak tahun 2007, kami menambah lini produk yaitu pembuatan mainan edukatif dari kayu (wooden toys). Ternyata memproduksi mainan kayu lebih sulit dibanding dengan mainan dari kain flanel. Beruntung, suami saya mempunyai kolega yang dulu pernah bekerja di pabrik pembuatan mainan kayu. Lalu kami melakukan join partner dengan kolega suami saya tersebut, mendirikan pabrik mainan kayu di daerah Bekasi. Kami yang mensuplai bahan baku dan beberapa peralatan, kolega kami yang menyediakan workshop dan tenaga kerja. Jadi, tanpa keluar modal yang besar, jadilah kami memiliki workshop mainan kayu sendiri.


Tumpukan Basic Shape A siap kirim, pesanan salah satu produsen obat untuk bahan promosi produk mereka.

Wah, kalau dulu saya keluar dari kantor dan memilih jadi ibu rumah tangga karena ingin selalu dekat dengan anak, saat ini saya justru sibuk sekali dengan urusan usaha kami tersebut. Lagi-lagi dilema buat saya. Lalu pelan-pelan saya berbicara dengan suami. Dan hasil pembicaraan antara kami berdua memutuskan, suami saya bersedia resign dari tempatnya bekerja dan ikut membantu mengurus usaha kami ini. Kelihatannya agak berat memang bagi suami saya meninggalkan jabatan Sales Supervisor di sebuah perusahaan penerbitan besar di Jakarta. Untuk membesarkan hatinya sendiri, suami saya pernah berkata, kalau kerja kantoran rezeki sudah dijatah setiap bulannya, tapi kalau jadi pengusaha rezeki unlimited, tergantung upaya kita mencapainya. Intinya, saya dan suami sepakat, mungkin inilah jalan kami untuk mencari rezeki yang ditebar oleh Allah SWT di muka bumi ini. Hikmahnya, saat ini saya bukan hanya selalu dekat dengan anak, tapi juga, ehm, dengan suami tercinta.

Kreasi desain-desain baru pada mainan kain dan mainan kayu akan terus kami upayakan. Kualitas barang yang bermutu dan harga yang terjangkau akan menjadi komitmen kami. Namun pada akhirnya, konsumenlah yang berhak menilai kami. Untuk itu kami akan terus melakukan yang terbaik untuk konsumen kami diikuti dengan pelayanan dan support yang terbaik pula.

Untuk itu jangan segan-segan untuk memberikan feedback pada kami, karena kami pun masih dalam proses belajar yang kadangkala diiringi salah dan khilaf.

Empat Tahun Malva Kayla

Tak terasa sudah empat tahun saya menjalani bisnis mainan edukatif ini. Subhanallah, tidak kebayang sebelumnya deh kalau usaha yang dimulai dengan modal irit ini bisa alhamdulillah berkembang seperti sekarang. Kalau ingat waktu awal mulai bisnis, aduh…jadi broken my heart nih. Dulu, apa-apa dikerjakan sendiri dari mulai bikin polanya, terus jadiin mainannya, ngurus pesanan, ngurusin paketnya lalu kirim ke konsumen. Pokoknya kerja keras habis.

Belum lagi cibiran orang-orang soal bisnis aku yang katanya”enggak penting-penting banget”. Yah, maklum deh, mungkin khan orang tahunya bisnis baju, makanan, minuman, rumah, mobil. Lha ini…..mainan anak terus yang edukatif lagi. “So what….justru yang enggak penting itu masih jarang digeluti orang”jawabku optimis saat itu. Dan yang pasti ALLAH always give me miracle juga doa orang tua dan semua yang sayang padaku….I LOVE YOU ALL

Dan jika pertengahan tahun 2007 hingga akhir 2009, malva kayla berpartner dalam produksi mainan kayu, Alhamdulillah, sekarang Malva kayla sudah memiliki pabrik sendiri. Sehingga kualitas dan kuantitas produksi bisa terjaga. Dengan dibantu 19 orang karyawan, mudah-mudahan Malva kayla dapat memberikan yang terbaik buat konsumen. Kalau dulu membangun bisnis dengan kerja keras, maka sekarang mempertahankan bisnis dan menjadikannya maju, itu ternyata harus lebih kerja keras.

Tujuh Tahun Malva Kayla

Alhamdulillah tak terasa sudah tujuh tahun usia malva kayla toys. Kalau ibarat manusia, tujuh tahun adalah usia pertengahan antara anak dengan remaja. Untuk sebuah usaha apalagi seperti saya yang mendirikan usaha dengan modal yang sangat minim, usia tujuh tahun adalah proses pencapaian hidup yang penuh keajaiban dari Alloh dan tidak berujung. Karena apa? Karena kalau bukan tangan Tuhan yang membantu, saya yakin usaha ini tidak bisa seperti sekarang. Usaha yang tidak hanya menjadi andalan hidup kami sekeluarga tapi juga puluhan orang didalamnya. Ada banyak mulut yang tergantung hidupnya pada usaha ini. Ada banyak doa yang selalu menyertai dalam perkembangan usaha malvakayla. Thanks Alloh to everthing for us.

Tujuh tahun berwirausaha di bidang mainan edukasi, menjadi proses pembelajaran yang menantang buat saya. Dari guru, kemudian jurnalis dan sekarang menjadi “tukang bikin” mainan, adalah proses pembelajaran yang luar biasa. Menghadapi puluhan konsumen tiap hari, dengan berbagai karakter dan sifat yang bermacam ragam, membuat hati bahagia sampai sedih, dari tensi darah rendah menjadi darah tinggi. Belum lagi menghadapi pegawai yang ada saja masalahnya. Pokoknya hidup ini memang jadi lebih berwarna

Meski dengan segala tantangan dan cobaan itu, tapi saya harus selalu bersyukur. Dengan memiliki usaha sendiri, otomatis ruang kerja dan waktu kerja bisa disesuaikan sendiri. Maka saya selalu bisa mencium anak saya (merasakan bau asamnya), bisa menyuapi anak dan tidur siang bersama (jika tidak ada kegiatan keluar), bisa menasehati kalau dia nakal. Melihat mereka tumbuh dengan saya selalu di samping mereka, itu menjadi kebahagiaan yang tak terkira buat saya. Dan dengan tidak mau muluk-muluk, saya ingin usaha saya ini terus berkembang dan maju, agar banyak orang yang bisa bekerja di dalamnya, agar banyak kemiskinan bisa dikurangi, agar banyak kejahatan bisa dihindari. Agar banyak produk kreatif yang diciptakan. Ada banyak anak tambah cerdas dengan bermain mainan edukasi. Ada banyak anak yang memiliki keterbatasan, bisa terbantukan. Ya Alloh, tetap bantu kami ya…… Suamiku tetap setia mendampingiku ya, bapak ibuku tetap mendoakanku ya, anak-anakku tetap jadi anak yang manis ya…..

Sepuluh Tahun Malva Kayla

Malvakayla sudah sepuluh tahun, tak terasa, banyak suka duka, keluh kesah, senang bahagia semua menyatu, dan tak terasa pula saya juga sudah berumur 40 tahun, tua ya he he he. Tapi kok merasa sedih ya karena belum bisa menjadi apa yang terbaik untuk diri sendiri dan juga orang lain. “Buat hidupmu bisa bermanfaat untuk orang banyak”, pesan almarhum bapak saya semasa hidupnya.

Dan Alhamdulillah, Allah SWT akhirnya memberikan kesempatan saya untuk berbagi ilmu lewat beberapa pelatihan dan training yang dilakukan oleh beberapa institusi pendidikan. Berbagi ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah di Universitas Negeri Jakarta jurusan Teknologi Pendidikan. Ditambah dengan pengalaman saya berkecimpung dalam disain mainan edukasi yang saya produksi di malvakayla toys, Saya mendapat kesempatan untuk memberikan pelatihan bagaimana membuat media pembelajaran kreatif dalam ruang belajar.


menjadi pembicara dan trainer "pembuatan media pembelajaran kreatif" dalam workshop Pelatihan Guru Berprestasi di Tanjung Jabung Timur, JAMBI

Saya berharap guru dan siswa bisa menjadi kreatif pula untuk membuat ruang belajar menjadi menyenangkan lewat media pembelajaran kreatif. Tidak perlu dengan bahan yang susah dan mahal. Bahkan dengan bahan bekas kita bisa membuat media pembelajaran sederhana tapi kreatif. Bahkan guru di daerah terpencil di ujung pulau pun bisa melakukannya.

Yang membahagiakan saya saat ini adalah bisa terlibat dalam training di Program Indonesia Mengajar yang digagas oleh Bpk Anies Baswedan Ph.D, Dimana disana saya bisa memberikan pelatihan kepada putra putri terbaik seluruh Indonesia, mempersiapkan mereka untuk menjadi guru di daerah penempatan di beberapa daerah terpencil di Indonesia. Suatu kesempatan yang tidak akan pernah saya lewatkan bersama mereka.


Bahagianya menjadi pengajar bagi para pengajar muda di program Indonesia Mengajar

Ya Alloh semoga saya bisa berbagi ilmu lebih banyak lagi. Menjadi trainer dan motivator bagi guru-guru diseluruh Indonesia. Berharap agar para guru bisa dan mau membuat media pembelajaran. Kenapa harus dengan media pembelajaran? Karena guru sekarang berhadapan dengan anak murid yang digital native, yang lahir dan tumbuh di era digital. Mereka terbiasa melihat konteks benda dan informasi secara audio visual. Jadi mohon maaf untuk para guruku, menurut saya jika para guru sekarang tidak mengubah pola pengajaran dan pembelajaran saat ini misal dengan bantuan media, ruang kelas akan jadi membosankan untuk anak didik. Dan mau tidak mau, suka atau tidak suka, guru masa kini itu harus memiliki literasi digital. Kemampuan mengoptimalkan penggunaan teknologi digital dan alat komunikasi untuk kegiatan belajar mengajar. Harapan saya jadi guru sekarang harus keren, Jangan mau kalah sama muridnya. Buat guruku, Salam hormatku…Salam Indonesia mengajar untuk pendidikan Indonesia lebih baik lagi.


menjadi trainer dalam "pelatihan bisnis rumahan" untuk ibu rumah tangga di daerah Jakarta Utara


Senangnya anak-anak berkebutuhan khusus di kampung nelayan Cilincing Jakarta Utara mendapatkan mainan edukatif dari Malvakayla Toys


Terima kasih buat para konsumen yang memberikan kepercayaan kepada mainan edukatif malva kayla menjadi teman main buat anak anda.


Yulina Setianingsih
(Owner Malva Kayla Toys)